ROMANSA UMAT MUHAMMAD DAN PESONA SIDROTUL MUNTAHA ||SEPUTAR RAJAB DI AL ANWAR 2||

Gondanrojo-(05/04) Muhammad,adalah nabi akhiruzzaman yang merupakan cikal bakal dan alasan Allah menciptakan alam semesta. Pada malam 27 Rajab Muhammad telah menerima perintah shalat dalam peristiwa isra’ mi’raj. Peristiwa ini sangat istimewa dan penting bagi umat islam.

Al Anwar 02 Bersholawat, Pewringatan Isra’ Mi’raj Rasullulah Saw.


Pada malam tersebut kekasih Allah yang menjadi cahaya bagi umat manusia melaksanakan perjalanan bersama Jibril. Dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina (isra’). Kedua masjid yang dibangun dengan selang waktu 40 tahun ini memiliki jarak ratusan kilometer. Kemudian Rasullulah naik menuju langit tertinggi bersama Jibril dengan menaiki Buraq, sebuah kendaraan yang lebih cepat dari pada kilat sehingga dapat membawa Rasullulah munuju Sidratul Muntaha yang jaraknya milyaran kilometer (mi’raj). Namun, atas izin Allah dapat ditempuh Rasullulah dalam satu malam saja. Secara rasional kejadian ini memang mustahil terjadi sehingga tidak ada satu orangpun yang percaya kecuali Abu Bakar. Karena hal inilah beliau mendapat julukan As Siddiq (yang membenarkan).


Untuk memperingati peristiwa istimewa sepanjang sejarah islam ini, digelar Al Anwar 02 bersholawat pada Selasa malam, 02 April 2019. Acara dihadiri oleh munsyid dari Langitan, ustadz Amrun dan diramaikan oleh hadrah PP. Al Anwar 02.


Ketua pondok pesantren Al Anwar 02 Ustadz Ahmad Mustaqim menyampaikan, acara ini diharapkan membawa banyak keberkahan. Khususnya bagi kelas 3 MTs dan MA. yang sedang melaksanakan ujian.


“Berkat sholawat ilmunya manfa’at, berkat sholawat yang maksiat jadi tobat, berkat sholawat yang bandel jadi taat, berkat sholawat semua ujian lewat.” seru beliau untuk membangkitkan semangat seluruh santri.


Pada malam puncak peringatan isra’ mi’raj PP. Al Anwar 02 Ustadz Ahmad Bahaudin menjelaskan, Rasullulah saat itu melakasanakan salat di 4 tempat. Pertama di kota yang kemudian dijadikan tempat hijrah (Madinah), kedua di bawah pohon yang digunakan berteduh kedua putri nabi Syu’aib yang ditolong oleh nabi Musa (Madyan). ketiga bukit Tursina yang menjadi tempat diciptakannya nabi Musa oleh Allah (Syam), dan yang terakhir Baitul Lahm/ Betlehem.


“Filosofi Allah memerintahkan nabi sholat di tempat-tempat tersebut adalah untuk menghargai para utusan terdahulu dengan agama yang terdahulu. Serta menunjukkan rasa toleransi terhadap perbedaan keyakinan,” jelas beliau pada seluruh santri (Keterangan dari Abu Yazid Muhammad).

Al Anwar 02 Bersholawat, Pewringatan Isra’ Mi’raj Rasullulah Saw.


Ustadz pengampu fan tafsir tersebut melanjutkan mauidzohnya dengan menyampaikan kisah Rasullulah saat peristiwa mi’raj. Sesampainya di Masjid Al Aqsha Rasullulah berpijak pada Qubbat As-Sakhrah atau Dome of the Rock atau Monumen Solomon (sulaiman) kemudian naik menuju langit ke tujuh di Bait Al Makmur. Pada saat inilah Rasullulah dapat berdialog secara langsung dengan Allah Swt.


Kemudian Rosulullah mendapatkan perintah untk menjalankan sholat 50 waktu. Namun, kemudian saat beliau turun dari langit ke 7 kemudian bertemu dengan nabi Musa, dari pertemuan ini nabi Musa memberikan rekomendasi kepada Rosulullah untuk memohon keringanan supaya tidak 50 kali dalam sehari. Hal tersebut berkaca pada umatnya nabi Musa yang lebih kuat dan besar saja tidak mampu menjalankannya, apalagi umat Rosulullah. Pada akhirnya Rosulullah bertemu dengan Allah SWT untuk yang ke 3 kalinya untuk meminta keringanan. Sampai pada akhirnya Allah menetapkan kewajiban sholat 5 waktu bagi umat islam.


Rasullulah dapat menyaksikan para malaikat silih berganti memasuki Baitul Makmur. Kemudian Rasullulah terpesona dengan seorang malaikat yang memiliki seribu tangan. Dari seribu tangan ini terdapat jutaan jari yang semuanya digunakan untuk menghitung. Kemudian, Rasullulah bertanya pada malaikat tersebut.

“Wahai malaikat Allah, apa yang sedang kau perbuat?. Kemudian malaikat tersebut menjawab, Ya Rasulullah! Hal yang sedang ku perbuat adalah menghitung setiap tetesan air hujan yang jatuh, baik yang di darat, laut, lembah, bahkan yang tidak dijangkau oleh manusia sekalipun semuanya dapat kuhitung. Namun, ada satu hal yang tidak bisa kuhitung, yaitu pahala yang diberikan Allah pada umatmu yang menyeru-nyeru namamu dalam sebuah majlis. Semoga kita semua termasuk umat yang demikian.” pungkas Ustad Ahmad Bahaudin.


“Amiin…!” seru seluruh santri.


Kemudian, pada saat pengaosan di pagi harinya Ustadz Ali Anshori melanjutkan keterangan yang sebelumnya disampaikan oleh Ustadz Ahmad Baha’udin. Sholat yang pertama dikerjakan oleh Rasullulah adalah sholat subuh, karena beliau turun dari Sidratul Muntaha menjelang fajar. Hal tersebut menunjukan ketaatan Rasullulah yang amat mendalam pada Allah.


Selain itu, Ustadz pengampu fan Akhlak tersebut juga menceritakan akhlakul karimah Ali bin Abi Tholib karamallahu wajhah. Ali adalah menantu sekaligus sahabat nabi yang istimewa. Selain itu, beliau juga dijuluki sebagai pintunya ilmu sesuai hadist Rasullulah :

” أنا مدينة العلم ، وعلي بابها ، فمن أراد العلم فليأته من بابه ” || “Aku (Muhammad) adalah kotanya ilmu dan Alilah pintunya, barang siapa menginginginkan ilmu maka datangilah dari pintunya.”


Sayyidina Ali adalah orang yang tidak pernah ketinggalan salat jama’ahn bersama Rasullulah. Namun, suatu saat Ali bertemu seorang paruh baya yang berjalan di depannya. Hal yang dilakukan beliau tidaklah mendahului orang tersebut, meski nantinya Ali akan tertinggal jama’ah bersama Rasullulah. Ali tetap berjalan di belakangnya demi menghormati orang yang lebih tua.


Sesampainya di halaman Masjid, Ali terheran ternyata orang tua tersebut bukanlah seorang muslim, namun seorang yahudi. Menyikapi hal ini Ali tidak merasa kecewa sama sekali, meski sedari tadi yang ia tunggu bukanlah orang yang akan melaksanakan jama’ah.


“Andaikan kita, pasti sudah sangat kecewa. Dan pastinya marah? Sudah ditunggu begitu lama ternyata hasilnya mengecewakan. Tapi, inilah akhlak mulia yang dimiliki seorang Sayyidina Ali. Jadi, kita juga harus memiliki akhlak yang baik untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.” jelas Ustadz Anshori.


Beliau melanjutkan, keterlambatan Ali untuk mengikuti jama’ah nyaris terjadi, namun dengan izin Allah. Sayyidina Ali tidak ketinggalan salat jama’ah bersama Rasullulah. Pada saat itu juga Allah memerintahkan malaikat Jibril untuk menahan punggung Rasullulah beserta jama’ah lain pada tingkah rukuk, sehingga Sayyidina Ali segera masuk dan mengikuti jama’ah Rasullulah.


“Inilah, bukti anugrah Allah bagi orang yang memiliki keinginan besar untuk mengistiqamahkan salat jama’ahnya.” Tegas beliau.


Pengasuh PP. Al Anwar 02 KH. Abdullah Ubab saat malam perpisahan libur semester satu menyampaikan, sholat Jama’ah sangat dianjurkan oleh Rasullulah. Sebab selisih pahala yang didapat sangat besar. Bila kita salat munfarid (individu) Allah menambah 1 pahala bagi hamba-Nya sedangkan dengan salat berjama’ah Allah menambah 27 pahala baginya. Selain itu beliau juga menyampaikan alasan santri Al Anwar 02 diwajibkan salat berjama’ah 5 waktu.


“Saat melaksanakan salat berjama’ah, kenapa pahalanya bisa dilipatgandakan sampai 27 kali. Hal itu karena, orang-orang yang khusyu’ dan baik salatnya akan menyertakan kebaikannya pada orang-orang yang mengikuti jama’ah tersebut. Jadi Insyaallah, dengan jama’ah kita bisa lebih baik dalam menjalankan salat.” terang putra KH. Maimoen tersebut


“Orang yang menunggu jama’ah dalah orang yang dipilih oleh Allah (Wali)” ungkap beliau di lain kesempatan.


Tepat hari ini adalah penghujung bulan Rajab. Alangkah baiknya bila kita menyedikitkan tidur dan, menggantinya dengan dzikir. Karena bulan Rajab adalah bulannya Allah.


Pada saat kegiatan Dzibaiyah, seluruh santri dihimbau untuk memperbanyak dzikir. Ataupun melantunkan sholawat sebanyak mungkin. Bisa juga dengan membaca do’a yang biasa diamalakan setelah jama’ah maghrib.


Do’a yang diamalakan bersama oleh seluruh santri Al Anwar 02 setelah jama’ah Maghrib:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ بِرَحْمَةٍ وَ مَغْفِرَةٍ وَ رِضْوَانٍ.
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab, dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami menikmati bulan Ramadhan. Ampunilah kami, dengan rohmat-Mu, dan pengampunan-Mu, serta ridha-Mu.”

Atau membaca Sayidul Istighfar:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau sudah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan berusaha selalu ta’at kepada-Mu, sekuat tenagaku Ya Allah. Aku berlindung kepada-Mu, dari keburukan yang kuperbuat. Kuakui segala nikmat yang Engkau berikan padaku, dan ku akui pula keburukan-keburukan dan dosa-dosaku. Maka ampunilah aku ya Allah. Sesungguhnya tidak ada yg bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *