KASIH SAYANG HAMBA DAN RAHMAT SANG PENCIPTA SEMESTA-SEPUTAR NGAOS BALAGH RAMADHAN

Memasuki minggu terakhir bulan suci Ramadhan tentunya nuansa dan romansa kebahagiaan turut menyelimuti hati seluruh umat muslim dari berbagai penjuru dunia. Pada bulan yang mulia diantara bulan-bulan yang dimulyakan ini para muslim dan muslimat akan tancap gas untuk meningkatkan amalannya.

Pada bulan-bulan sebelumnya mayoritas masyarakat akan mengutamakan ibadah-ibadah fardhlu saja, dan sedikit acuh tak acuh dengan amalan-amalan sunnah. Namun pada bulan Ramadhan, semua orang berusaha memperbanyak amalan-amalan sunnah seperti sholat tarawih yang hanya dilakukan pada bulan ini dan tadarus Al Quran, terlebih memasuki tanggal-tanggal akhir.

Sebagai seorang hamba sudah sepatutnya kita menjalankan perintah sang Penguasa Arsy. Segala amalan yang kita perbuat baik yang diterima maupun tidak diterima itu merupakan urusan Allah, tugas kita hanyalah berusaha menjalankannya. Jadi, apapun keputusan Allah adalah hak Allah. Namun, kita dilarang berputus asa dan justru meremehkan amalan-amalan ringan dan meninggalkan amalan-amalan wajib sebab merasa takut tidak diterima oleh Allah ataupun merasa belum bisa menjalankannya dengan sempurna.

Dalam sebuah hadist diriwayatkan “Seorang ahli ma’siat dan pendosa besar yang mengharapkan rahmat Allah akan lebih dekat dengan Allah, daripada mereka yang ahli ibadah namun berputus asa dengan rahmat Allah” hadist tersebut merupakan sebuah motivasi bagi seluruh umat muslim bahwa seseorang dilarang berputus asa atas rahmat Allah meskipun dosa yang ia perbuat ibarat samudra yang sangat luas. Selagi seseorang tersebut memiliki keyakinan bahwa perbuatannya salah dan ada keinginan untuk bertaubat dan mengharap rahmat Allah, maka Allah akan berbelas kasih padanya.

Sebuah kisah inspiratif yang mencerminkan betapa kasih sayang Allah pada makhluknya sangat besar pernah dialami sahabat Rasulullah, yaitu kisah Umar bin Al Khattab dan seekor burung. Suatu ketika dalam suasana hiruk pikuk negeri Makkah Al Mukarramah, Umar berjalan diantara gang rumah dan menyusuri jalan-jalan kecil. Kemudian beliau menjumpai seorang anak yang sedang bermain-main bersama seekor burung kecil, lambat laun anak tersebut justru menyakiti sang burung dengan mengikat lehernya dan menarik-nariknya. Melihat kejadian tersebut Umar pun merasa iba pada sang burung yang merasakan penderitaan. Tanpa pikir panjang akhirnya Umar pun membeli burung tersebut pada sang anak kecil. Setelah dibeli, beliau membebaskan sang burung dan membiarkannya terbang.  Tindakan sederhana Umar ini seakan-akan tidak berefek dan berfaedah besar.

Namun, setelah berjalannya waktu dan beliau telah meninggal dunia banyak kalangan jumhur ulama yang bertemu dengan beliau dalam mimpi. Berkali-kali mereka memimpikan Umar, hingga mereka gusar dan bertanya pada Umar. “Wahai Umar! hal apakah yang dilakukan Allah kepadamu?,” kemudian beliau menjawab “Tuhanku telah merahmati dan mengampuniku,”  Mereka kembali bertanya “Perbuatan apakah yang engkau lakukan sehingga Allah melakukannya. Apakah karena kedermawananmu atau keadilanmu, ataukah ke zuhudanmu?,” Beliau kembali menceritakan “Sewaktu aku dikubur, dikubur dan kalian mulai meninggalkan kubur hingga aku seorang diri, datanglah dua malaikat yang menakutkan sehingga membuat orang yang menyaksikannya menjadi hilang akal dan kewibawaannya sangat menggetarkan. Tujuan mereka adalah megintrogasiku. Sebelum hal itu berlangsung, tiba-tiba ada suara tanpa wujud (hatif) yang terdengar. ‘Tinggalkanlah dia dan jangan kalian menakut-nakutinya, sesungguhnya Aku (Allah) mengasihi dan mengampuninya’ demikianlah yang Allah kehendaki bagi ku.

Kasih sayang Allah telah membebaskan Umar dari pertanyaan kubur, padahal secara hakikat pertanyaan kubur merupakan step yang wajib dilalui  seorang hamba dalam proses menuju kehidupan kekal abadi. Semasa hidup Umar telah mengasihi makhluk Allah, maka Allah juga mengasihinya. Hikayat tersebut mengajarkan pada kita bahwa tindakan dan amalan yang terkadan kita menganggapnya ringan dan hal-hal kecil justru berfaidah besar di kemudian hari sebab ikhlasnya hati kita dan keridhloan Allah pada perbuatan yang kita jalankan.

Kisah serupa juga dialami oleh imam Al Ghozali. Suatu ketika, beliau sedang menulis kitab dan hendak mencelupkan pena kedalam tinta, ada seekor lalat yang hinggap di atasnya. Imam Ghozali tidak mengusir lalat tersebut, akan tetapi beliau membiarkan lalat tersebut meminum tinta dan sabar menunggu hingga lalat tersebut kenyang.

Bukan karena kecerdasan beliau dalam mempelajari agama Rasullulah yang membebaskan Imam Al Ghozali dari pertanyaan kubur, justru berkat keikhlasan beliau dalam menulis kitab dan belas kasih beliau pada sesama makhluk Allah lah yang mengantarkanya pada rahmat-Nya.  

Dari kisah-kisah tersebut hendaknya kita tidak meremehkan hal-hal kecil yang sering kita jumpai. Sekaligus amalan-amalan sederhana yang sering kita remehkan. Sekecil apapun kebaikan  itu, bahkan sekecil zarah (biji sawi) Allah akan membalasnya. Jadi, jangan pernah berputus asa dalam mendekatkan diri pada ridhlo dan rahmat Allah.

Semoga setiap langkah kita selalu diberkahi Allah dan selalu dituntun dalam kebaikan, meskipun kita sulit meninggalkan kemaksiatan. Jika di hati kita ada kemauan dan keyakinan mengenai maksiat itu salah dan harus ditinggalkan, Insya Allah akan terbuka hidayah dan pengampunan-Nya. Bahkan, seorang pelacurpun dapat dilebur dosanya oleh Allah sebab belas kasihannya pada seekor anjing yang kehausan.

Selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadhan 1440 H!

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *