IJAZAHNYA SANTRI DAWUHNYA ABAH DAN MBAH YAI

Mauidoh K.H. Abdullah Ubab MZ.

Selama 3 tahun menjadi santri di Al Anwar, kelulusan menanti para kelas XII. Tak sekadar popularitas, kreatiitas, serta moralitas. Tidak pula untuk mendapat lembaran bertapak tangan kepala sekolah. Apalagi kalau bukan ijazah.

Santri Putra keals XII

Sangking pentingnya ijazah, beberapa orang kehilangan hak dalam memper oleh pekerjaan maupun, terhenti pendidikan formalnya. Bagi santri hakikat sesungguhnya ijazah bukanlah lembaran kertas dengan legalisir. Namun perkataan, wasiat, serta ijazah-ijazah yang menjadi bekal para santri saat di dalam masyarakat.

Pengasuh PP Al Anwar 02, K.H. Abdullah Ubab MZ, berpesan hendaknya santri kelas VI,IX,XII tidak menggunakan istilah boyong dalam kepulangannya kali ini. Namun, diganti dengan istilah pulang sebentar dan tidak kembali. Karena yang namanya santri, sampai kapan pun tetap nyantri.

K.H. Abdullah Ubab menyampaiakn wasiat pada XII,IX

“Santri kalau sudah pulang dari pondok atau tempat belajarnya. Harus berani istiqomah” K.H. Maimoen Zubair

Dalam menuntut ilmu santri harus sadar dengan kemampuannya, tidak memikirkan tingkatan kelas. Meski pengetahuan kita sedikit, bila kita mampu menerapkanya itu lebih baik dari jutaan ilmu ynag hanya tersimpan dibalik memori kita.

K.H. Abdullah Ubab menyampaikan, beliau merasa bangga apabila melihat santrinya yang tidak naik kelas tetap melanjutkan sekolah. Meski tertinggal dengan teman sebaya, serta harus satu kelas dengan adik kelas.

“Naik kelas bukanlah hal yang  penting, tapi yang terpenting adalah kepahaman ilmu kita pada materi yang disampaikan selama setahun pelajaran. Saya sering menjumpai santri MGS yang sengaja turun kelas karena merasa kemampuanya belum cukup untuk melanjutkan jenjang lebih tinggi.” Pesan Abah Ubab dalam mauidoh muwada’ah madrasah.

Jadi, tolak ukur ilmu yang kita miliki tidak ditunjukan dengan ijazah. Namun dibuktikan dengan akhlakul karimah yang kita terapkan di masyarakt nantinya. Menjaga almamater, serta moralitas diri jauh lebih berarti dibanding surat legalitas.

Acara perpisahan ini dimeriahkan dengan Gita Mawar Voice. Hadrah Aghistna Za turut melantunkan shalawat dengan merdu sehingga membius tamu undangan serta seluruh santri. Serta dilaksanakan tahlil bersama.

Hadrah Aghistna ZA (Angkatan 10)
GMV Menyanyikan mars MA Al Anwar

Meski nanti menjadi orang besar, jasa guru serta masyayikh lah penuntun kita menuju kesuksesan. Ridhlo orang tua, dan guru adalah ridhlo Allah. Berkhidmah serta ber tawaduk adalah jalan menuju kesuksesan fi diin. Bila seseorang shalatnya baik maka keseluruhanya baik, artinya rezeki di dunia tergantung pada rezeki akhirat kita. Meski terkadang ujian selalu diberikanAllah untuk menaikan derajat kita.

Tetap semangat menuntut ilmu. Dengan ilmu kita mampu menggengam dunia. Karena orang yang mulia dimata Allah adalah insan yang berilmu serta bertaqwa.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *